4/18/2013

The Real Fun and Relaxing Vacay

saya, Nashtiti Aliafari, di atas bukit pinggir Pantai Siung

For the first time bermalam di pinggir pantai, di sebuah cotttage tua yang teduh. Saya dulu selalu bermimpi, bisa menginap di pinggir pantai, and for finally my dream came true.

Tiduran di pinggir pantai, beralaskan pasir putih dan beratapkan langit malam dengan bintang bertaburan, dengan latar suara ombak yang sweet yet scary. Lalu duduk melingkar dengan api unggun di tengah, bakar jagung dan sosis, sambil main gitar nyanyi-nyanyi bareng. Nonton film bareng, film yang menurut saya ter-ngebuat-deg-degan yang pernah saya tonton. Dilanjutkan dengan naik turun bukit, the real adventure, yang bikin kepleset dan encok seluruh badan serta njarem di kaki, Icun yang selalu bantuin naik dengan kata-kata andalan "Need a hand?" tapi mblasukke ke jalan yang susah, padahal ada jalan yang lebih mudah hahaha bikin ngakak. Sayangnya nggak kedapetan ngeliat sunrise karena mendung. Trus menang games bareng kelompok paling bawel dan rempong sedunia, kelompok biru dengan jargonnya FORZA BIRU! *dungdurudungdung* yang beranggotakan (kebetulan) ladies semua: Nisa, Pika, Salma, Dek Vio, Dek Hayu, Dek Nissa, Dek Dea. Dan selanjutnya yang paling ditunggu-tunggu, renang di laut! Atau anggap saja begitu, karena dalam kenyataan hanya ngerendem badan dan ngambang gak jelas sembari nunggu diterpa ombak yang semacam jadi pijat refleksi. Soooo relaxing. Habis itu ngeliatin yang rock climbing-- pengen nyoba tapi sadar diri (read: sadar berat badan). Terimakasih Teladan Hiking Association 39 sebagai penyelenggara acara. It was a real fun and relaxing vacay. Asli bahagia dan bersenang-senang :) Can put no more words to describe how happy I was.

berendam~

FORZA BIRU menang games \m/ bersama ketua Beach Camp, Ikhsan Kharisma (icun) *yg lagi megang bendera*

gadis Ayat-ayat Cinta

menggilanikan =))

bersama sahabat saya, Elsa Fairuza

gadis gurun :3

bersama sahabat saya, Arisna Pramudya

sahabat saya yang jago Rock Climbing, Muhammad Adimas Dewantara (Dimcil)

Seluruh panitia dan peserta Beach Camp 2013

Salam anak pantai!

3/31/2013

halo

Sudah lama tidak bercerita dengan tulisan, jadi canggung. Mungkin lebih baik memulai dengan kata sapaan; halo. Kabarku baik, dunia nyata menyita banyak sekali dari pikiran, energi, terlebih waktuku. Banyak hal yang telah terjadi dan merubahku. Banyak hal pula yang kutemukan, kudapatkan, dan yang harus rela kulepaskan. Namanya juga hidup, pasti banyak perubahan, gerakan. Seperti petuah yang mengibaratkan hidup itu seperti roda, berputar, kadang sisi atas berada di bawah, kadang sisi bawah berada di atas. Ya, seperti itu pula hidup saya. Menakjubkan.

Untuk keadaanku yang lebih spesifik, sekarang aku masih tinggal di sebuah rumah di Jalan Damai (rumah yang baru saja kutinggali 2 tahun lebih, dan sudah pernah aku ceritakan di blog ini), masih bersekolah di SMA N 1 Teladan Yogyakarta (sekolah yang, jika terlepas dari nama institusi pendidikan, merupakan sebuah rumah yang sangat menakjubkan), dan sekarang aku sudah berumur 16 tahun 10 bulan 3 hari.

Mungkin sekian dulu, terimakasih blogspot karena selalu menyediakan spot untuk menuangkan tulisan random seperti ini. Terimakasih, Tuhan, untuk segala karunia yang telah Engkau berikan.

1/07/2012

Two O One Two

*welcoming the brand new year* 
*confetti*

Looking back to 2011, I didn't write a lot on this blog. 2011 was pretty busy, a lot of things has to be settled and done, and a deep loss (I miss you, Sissy). A lot of people making resolutions or plans for the brand new year, and here I'm trying to make one. (Tho I never do my resolutions 'cause I'm that type of person who likes to let things flow haha).

Resolusi 2012:
a. Menjadi muslimah yang lebih baik dan lebih jago mawas diri, ibadah diperkuat
b. Jangan pernah menyia-nyiakan waktu dan kerjakan apa yang harus dikerjakan, SECEPATNYA. Waktumu berharga, dan sekali aku kehilangannya, ia takkan pernah kembali.
c. Lebih terbuka tetapi tetap memilih orang yang bisa dipercaya (Jeremy McKinnon says, 'be careful who you believe in')
d. Do what makes me happy, and never regret
e. Smile more often
f. Laugh harder
g. Never underestimate people
h. Jangan mudah tersinggung dan menyinggung, take it easy
i. NABUNG! jauhi kantin, burjonan, indomaret, dan tempat-tempat yang dengan gampang membuatku merampok isi dompetku sendiri.
j. 2 atau 3 seri (1 seri = 10x knee up) tiap malam, boleh nyicil pagi 1 malem 2
k. Jauhi HP sesering mungkin, perbanyak komunikasi face-to-face
l. ke Bromo! ke Pantai! Wisata kuliner! Family time ({})
m. Bikin paspor (iya aku tau aku cupu banget belum punya paspor, but I promise someday I'm gonna travel the world)
n. Relax, stay calm, and think more
o. Making suprises for people I love
p. Kurangi skip, nyatet pelajaran atau minimal ndengerin dan nggatekke guru. Hargai orang tua yang udah membiayai sekolah dan ngasih fasilitas.
q. Atur waktu belajar (ingat mimpi-mimpimu, ti, semuanya nggak akan tercapai kalo kamu nggak berusaha)
r. Lebih banyak bersyukur dan kurangi bahkan hindari mengeluh.
s. Lebih sering pergi ke acara musik, festival, gigs, dan semacamnya
t. Think positive, 'cause negative things will kill us slowly
u. Makan makanan yang sehat dan teratur, syukuri dan hargai tubuh. Ingat pesan dokter, 'jangan makan yang kecut, pedes, susu, atau penyakitmu bakal kambuh lagi'
v. Ucapkan kata-kata magic seperti 'tolong', 'maaf', 'terimakasih', hargai orang-orang di sekitar
w. Think differently
x. Make goals
y. Tau kapan harus bercanda dan kapan harus serius, kalo bercanda jangan berlebihan kalo serius jangan di bawa tegang. And,
z. o on~ Better keep it in my own book :p

So, how about your resolution, people?

P.S. resolusi diatas dibuat bukan berdasarkan skala prioritas, urutan tidak menunjukkan kepentingan yang sebenarnya.

12/03/2011

Jadi Bunglon Sepertinya Asyik

Tess.. Tess.. Tch. Asin.
Lidahku ketetesan air itu lagi. Air yang jatuh dari kedua bola mataku, pertanda pikiran-pikiran di otakku sudah terasa tak mampu lagi aku tampung. Bagaikan diisi oleh ribuan ton emas 24 karat. Walaupun mahal, tapi beratnya gak ketulungan. Inilah tabiat burukku, terlalu mudah untuk meneteskan kucuran kesedihan ketika memang dirasa hati sudah tak mampu lagi. Dan aku juga terbiasa memendam. Terbiasa untuk berpikir "Ah, yasudahlah. Biar. Aku cari sendiri jalan keluar. Toh, masalahku hanya sepele dibandingkan masalah negara ini," ketika masalah-masalah merundung hariku. Bukannya aku tak punya sahabat atau orang kepercayaan, tapi... Entah kenapa ketika aku ingin bercerita kepada mereka, aku bingung untuk menerjemahkannya ke dalam kata. Terkadang yang aku ingin hanya memeluk mereka, erat.

Kehidupan SMA merubah banyak hal dan sangat berbeda dengan SMP, meskipun tujuannya sama, tempat menuntut ilmu. Kehidupanku yang sekarang, tak semudah dulu yang hari-hari kujalani dengan enteng hati. Nggak perlu mikir ini-itu, nggak perlu merubah ini-itu, nggak perlu mikir masa depan. Apa yang mau aku lakuin, ya aku lakuin. Apa yang nggak aku suka, yang nggak aku jalanin. Masalah pelajaran juga nggak terlalu memberatkan. Sahabat-sahabat juga selalu setia dan ada untuk mendengarkan berbagai cerita nggak pentingku, nyambung sama lelucon nggak jelasku, dan tau gimana aku.

Tapi sekarang emang nggak bisa gitu lagi. Hidup itu seperti roda. Roda itu bundar, dan berputar. Sisi atas nggak akan selalu berada di atas. Ia juga akan merasakan bagaimana terlindasnya berada di bawah. Dan berada di sisi kanan atau kiri, dikesampingkan. Nggak selamanya remaja yang hanya tahu bagaimana caranya galau, wasting time, melakukan hal-hal yang dianggap rebel, nggak mau mikirin masa depan, dan hal-hal khas remaja lainnya, akan selamanya seperti itu. Lambat laun, para remaja juga akan melalui yang namanya pendewasaan. Sadar ataupun nggak.

Postinganku yang dulu pernah menyebut "aku sedang mengalami masa pendewasaan," sepertinya salah. Ternyata yang kulalui waktu itu hanya sepersekian, secuil, dari apa yang aku alami sekarang. Waktu itu aku merasa hancur hanya karena cinta bertepuk sebelah tangan, cinta monyet. Tapi apa yang aku alami sekaranglah yang membuatku lebih melihat hidup dari sisi orang dewasa, yang mengharuskanku untuk menentukan masa depan, yang membuatku harus secepatnya membentuk diri.

Adaptasi memang tidak pernah mudah, tidak seperti halnya bunglon yang setiap ia menclok di tumbuhan berwarna hijau, ia akan dengan cepat berubah menjadi warna hijau. Ketika menclok di tumbuhan berwarna merah, ia dengan cepat bertransformasi menjadi warna merah. Adaptasi yang dialami manusia selalu membutuhkan proses, panjang ataupun pendek.

Dan, ya, sekarang aku sedang menjalani proses itu.

11/26/2011

Hanya Pulang, Bukan Pergi

Disuatu siang menjelang sore, dihari yang tidak terlalu terik namun cukup membuatku gerah, aku duduk termangu di kursi panjang yang terletak di koridor lantai 2 gedung sekolah. Koridor ini langsung berhungan dengan jembatan, jembatan yang menghubungkan antara gedung induk dan gedung di sebelahnya. Mungkin karena degup jantungku yang tidak mau tenang, membuat adrenalinku terpacu dan meningkatkan suhu tubuhku. Sehingga keringat bercucuran tak tahu malu menjalari pelipisku, kemudian pipi. Aku sedang menunggu panggilan untuk memasuki ruangan 203, sebentar lagi aku akan menjalani sebuah prosesi wawancara untuk masuk ke sebuah organisasi. Mengikuti wawancara ini adalah sebuah kewajiban untuk dapat menjadi salah satu anggota organisasi tersebut. Rumornya, wawancara ini begitu mematikan. Dalam wawancara ini akan ditantang bagaimana kita dapat memegang teguh keyakinan serta seberapa kuat kah mental kita. Tapi itu baru rumor, kabar burung yang tak jelas kebenarannya. Saat aku bertanya pada kakak kelasku kemarin, ia tak mau menjawab. Tunggu dan saksikan, begitu katanya. Makin membuat bulu kudukku berdiri saja.

Ku layangkan pandanganku ke sekeliling koridor tempat aku menunggu. Teman-teman seperjuanganku yang juga akan mengikuti prosesi wawancara, rupanya merasakan hal yang sama denganku. Terlihat dari ekspresi mereka yang seperti menunggu panggilan kematian dan cucuran keringat yang membasahi pelipis mereka. Tegang seperti menunggu proses pengadilan. Banyak juga yang saking gugupnya, mereka melakukan hal-hal yang absurd. Ada yang sedikit absurd seperti menggunting-gunting kertas menjadi segi delapan, ada pula yang sangat absurd seperti mengajak berbicara semut merah yang berbaris di dinding. Sepertinya ia sedang mencurahkan perasaannya kepada semut-semut itu. Manusia memang sering melakukan hal-hal absurd saat mereka dalam keadaan tertekan ataupun gugup. Termasuk aku, yang dengan absurdnya memerhatikan perilaku absurd teman-temanku. Aku pun tertawa dalam hati, namun itu juga tak dapat menenangkan jantungku.

Ku layangkan pandanganku lagi, kali ini menuju ke kelas-kelas di kiri dan kanan koridor. Masih banyak murid-murid yang berkeliaran maupun yang hanya berdiri di depan pintu kelas masing-masing. Nampaknya mereka masih betah berada di sekolah walaupun jam pelajaran sudah berakhir dan jam tanganku sudah menunjukkan pukul 2, jadwalnya pulang sekolah. Sekolah ini memang jarang sepi, karena murid-muridnya yang sudah menjadikan sekolah seperti rumah kedua. Keadaan yang memaksa mereka untuk tetap berada di sekolah meskipun waktu sudah menunjukkan saatnya pulang ke rumah, karena banyak kegiatan seperti ekstrakurikuler, rapat organisasi, dan hal lainnya yang di lakukan seusai sekolah.

Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku, membangunkanku dari lamunan memerhatikan sekitar. Seketika ku tolehkan kepala dan di sanalah ia sosok yang sangat ku kenal, sesosok lelaki remaja berambut cepak dan berkacamata yang menggendong tas ranselnya. Aku mencium hal yang janggal. Raut wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi, kini terlihat semburat kesedihan yang terpancar jelas. Ku kerutkan keningku.

“Ada apa?” tanyaku.

“HP-mu mati ya? Ada berita buruk. Sini ikut aku,” jawabnya dengan nada datar.

Ia pun segera menggeretku ke jembatan di dekat koridor. Degup jantungku yang sedari tadi berdegup kencang mulai menambah kecepatannya. Perasaan tidak enak menyelimutiku. Kami diam. Hening yang menyakitkan. Akhirnya pemuda itu angkat bicara.

“Nadia keluar dari rumah sakit hari ini. Ibuku yang menelponku untuk memberitahukan ini padamu. Tadi ibumu sudah mencoba menghubungimu, tapi HP-mu nggak aktif. Sekarang kita disuruh pulang, aku nebeng kamu, ya,” tuturnya cepat.

Jantungku yang sedari tadi berpacu kencang, tiba-tiba berhenti, dan berdetak sangat pelan setelah mendengar rentetan kata-kata itu. “Nadia keluar dari rumah sakit hari ini.” Nadia? Na.Di..A. Pelan-pelan ku cerna kata-katanya. Nadia, kakak perempuanku satu-satunya itu memang sedang sakit keras dan menginap di rumah sakit. Baru saja masuk UGD Senin lalu, dan sekarang Hari Sabtu. Hari Jumat kemarin dokter berkata bahwa kakakku sedang berada dalam kondisi yang semakin kritis. Aku bingung. Keluar dari rumah sakit? Apa maksudnya? Ah, ambigu. Tapi aku harus tetap berpikir positif.

Kemudian aku teringat akan prosesi wawancara yang akan aku lakukan sebentar lagi. Duh, bagaimana ini? Giliranku untuk di wawancarai belum juga tiba, tapi aku sudah di haruskan pulang oleh keluargaku. Aku menoleh, pandanganku tertuju pada teman-temanku yang rupanya sedari tadi memerhatikan aku dengan pemuda di depanku berbicara. Seketika itu juga mereka menyorakiku.

“Ihiiiyyy.. Sekarang Alia sama Rahman yaaa.. Ciyeee,” sorak mereka jahil dan menatapku dengan penuh makna.

Ah, sial. Sepertinya mereka salah mengerti.

“Bukan, dia sepupuku, kok,” jawabku datar.

“Owalaaah..,” tampak kekecewaan di wajah mereka.

“Makanya jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Wuuu!” tambahku.

Mereka pun tertawa.

Aku kembali menatap Rahman. Bingung antara dua pilihan ini. Hatiku berkata aku harus cepat pulang, tapi pikiranku sedang kacau, tak bisa berpikir jenih. Rasanya saat itu juga aku ingin segera pergi dan melihat kondisi kakakku, tapi aku tak tahu bagaimana cara mengungkapkan ini kepada teman-teman dan calon pewawancaraku. Saat aku sedang memikirkan jalan keluar, tiba-tiba Rahman berkata,

“Aku ijinin ke mbak-mbaknya sini, kita udah di buru waktu, nih. Nanti aku bisa di marahi ibuku. Pak Yadi juga sudah menjemput kita. Ayo, cepat,” ujarnya sambil terburu-buru. Gaya berbicaranya memang super cepat tapi tak pernah terburu-buru seperti ini.

“Iya, deh. Tapi bener lho, ya, kamu yang ngomong. Aku takut. Sana masuk duluan,” jawabku.
Aku mendorongnya menuju ke pintu ruangan 203. Lalu ia mengetuk pintu ruangan itu tiga kali. Terdengar orang yang berada di dalam mempersilakan kami masuk dan kami pun membuka pintu. Suasana mencekam berhembus sesaat setelah Rahman membuka pintu. Tatapan tajam yang mengiringi kami memasuki ruangan itu, begitu terasa menusuk-nusuk. Aku menunduk. Lalu aku mendorong Rahman untuk yang kedua kalinya, menyuruh ia bicara.

“Assalamualaikum, mbak-mbak dan teman-teman. Maaf mengganggu. Saya Rahman, sepupu dari Alia. Begini mbak, kakak dari Alia sedang dalam kondisi kritis, maka dari itu keluarganya meminta Alia untuk pulang sekarang...”

Kalimat selanjutnya sudah tak dapat ku dengar lagi, tiba-tiba kepalaku pening dan aku merasakan air turun dari mataku, menelusuri pipiku. Entah kenapa, aku menangis. Dadaku sesak saat Rahman mengucapkan kalimat “Kakak dari Alia sedang dalam kondisi kritis”. Pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal pikiranku, yang sudah kucoba kubur dalam-dalam, muncul ke permukaan. Ambiguitas yang sedari tadi membayang, nampaknya mulai menunjukkan arah yang benar, yang terjadi sebenarnya. Pikiranku makin kacau. Apa yang sebenarnya terjadi dengan kakakku?

Tiba-tiba tanganku disenggol. Aku tersadar dan mengangkat kepala, memandang mata-mata yang tadinya menusukku tajam dengan pandangan, kini melembut dan memancarkan sinar kepedulian. Aku hanya bisa menarik bibirku dan mengucapkan terima kasih untuk mereka. Lalu Rahman menarikku keluar dari ruangan itu. Di luar, teman-temanku memandangi kami dengan bingung. Terutama memandangiku yang bermata sembab, yang masih menyisakan cairan bening di pipi. Aku memandangi mereka satu persatu, mencoba menjelaskan hanya dengan tatapan mata, dan mereka pun mendekatiku. Memelukku. Tangisku makin menjadi.

Rahman yang sedari tadi hanya memerhatikan, akhirnya membuka mulut. Ia menjelaskan dengan singkat tentang apa yang terjadi barusan kepada teman-temanku, kemudian menyuruhku untuk segera mengambil tas. Aku pun dengan berat melepas pelukan mereka yang nyaman itu, lalu mengambil tas hijau lumutku, dan menghampiri Rahman. Saat kami mulai berjalan menjauh, teman-teman memanggilku.

“Alia! Kamu harus kuat! Kakakmu pasti sembuh! Semangat! Tetap tersenyum!” teriak mereka lantang, berusaha menguatkan, dan memberikan senyum terhangat mereka.

Aku hanya bisa balas tersenyum, tak mampu berkata apa-apa. Memandang mereka dengan tatapan berterimakasih. Aku pun melanjutkan langkahku dan menuju ke tempat dimana biasanya Pak Yadi, supirku, menjemput. Aku masuk ke mobil dan duduk, terdiam dan merasa lelah. Ternyata mengeluarkan air mata itu membutuhkan energi yang banyak, ya. Terbukti beberapa saat setelah Pak Yadi menjalakan mobil, aku jatuh terlelap.

Saat aku membuka mataku sedikit demi sedikit dan melihat sekeliling, aku tersadar. Oh, ternyata sudah sampai. Aku segera turun dari mobil dan bergegas memasuki rumah, rumah bertingkat dengan cat dominan putih-hijau, rumah keluargaku. Ku lihat ternyata sudah ada kakek dan nenekku, serta saudara-saudara dari pihak ibuku di ruang tamu. Setelah mengucapkan salam dan berbasa-basi sedikit, aku menengok ke dalam, ke arah ruang keluarga. Tapi yang ku cari tak ada. Aku pun beranjak ke kamar orang tuaku, tapi sama saja, kosong.

Tiba-tiba suara sirine mobil ambulan membahana, memekakan telinga. Aku bergegas keluar dari kamar dan menuju pintu rumah. Seketika itu juga aku berhenti. Aku terpaku. Hatiku kelu. Bibirku membisu. Tatapanku tertuju pada sosok yang sedang di bopong keluar dari mobil ambulan oleh ayah dan kakak laki-lakiku. Ibuku di samping mereka, membacakan bacaan-bacaan yang umum ku dengar saat mengantar jenazah dan ku lihat bulir-bulir air kesedihan itu jatuh dari bola mata ibuku. Karena tak kuasa melihat, ku palingkan wajahku. Tatapanku kini tertuju pada sosok itu kembali. Sosok yang sedang di bopong. Badannya terbujur kaku, mengenakan pakaian rumah sakit yang putih bersih. Aku berlari menghampiri mereka yang sedang membopong sosok tersebut. Sosok yang sangat ku sayangi, kakak perempuanku satu-satunya, Mbak Nadia.

Aku pun segera membantu mereka membopong Mbak Nadia memasuki rumah dan membaringkannya di tempat tidur yang biasanya di tempati oleh kakakku itu. Kemudian aku menatap wajah Mbak Nadia dengan nanar. Dinding pertahanan yang sedari tadi kucoba bangun, jebol seketika. Air mata bercucuran, aku menangis sesenggukan.

Aku membelai rambutnya. Rambutnya yang kini cepak, padahal dulunya panjang tergerai indah namun harus dipotong untuk mempermudah penyembuhannya. Kuusap keningnya yang sering berkerut jika sedang marah ataupun sebal padaku, yang kini mulus tanpa kerutan. Kemudian matanya yang kini hanya bisa menutup, yang dulu menatapku dengan tatapan berbinar saat aku memberikan coklat kesukaannya ,yang ber-merek sama dengan namanya. Lalu hidungnya, yang dulu semerah tomat saat sedang sakit flu, yang kini berwarna putih pucat. Pipinya kuusap. Pipi yang dulu selalu merona tiap kali aku menggodanya, yang kini sama pucatnya dengan hidungnya. Kemudian kuperhatikan bibirnya, yang dulu selalu riang berceletoh ini itu, menceritakan harinya di sekolah, dan memanggilku untuk terakhir kalinya saat akan dibawa ke UGD dari bangsalnya dengan suaranya yang lirih karena lemah dan nyaris berbisik, “Alia…”. Dan kini hanya bisa terkatup rapat. Air mataku tambah deras.

Aku beralih, menggenggam tangannya. Tangan yang dulu selalu mencubit pipiku dengan gemas dan sambil ia berkata, “Alia ucu..” yang artinya “Alia lucu”. Ya, kakakku memang tidak bisa berbicara dengan jelas. Ia juga tidak seperti anak lainnya, ia spesial. Down Syndrome, itu yang membuatnya berbeda. Kelebihan sel kromosom semenjak kecil membuat postur tubuhnya seperti orang mongoloid. Tapi ia tetap kakakku, kakak perempuan yang paling aku sayangi, pemberi warna dikehidupan di keluargaku. Kondisi kesehatannya mulai menurun sejak satu tahun yang lalu. Berbagai upaya telah dilakukan oleh orang tuaku, namun ternyata Allah SWT berkehendak lain.

Tiba-tiba seseorang merangkulku dan berbisik, “Alia harus ikhlas ya.. Ini sudah takdirnya Mbak Nadia. Alia harus kuat. Jangan nangis, nanti Mbak Nadia sedih dan nggak tenang. Alia juga harus nguatin Mama, Papa, dan Mas Gifri. Alia harus tabah, serahkan semua sama Yang Maha Kuasa.. Kalian sudah melakukan yang terbaik untuk Mbak Nadia, kok. Ikhlaskan. Karena yang berasal dari-Nya pasti akan kembali pada-Nya. Mbak Nadia hanya pulang, bukan pergi..”
**
Taburan bunga di atas gundukan itu berwarna gelap dan seperti abu, meskipun tadinya berwarna ungu cerah, ada juga yang merah muda. Mungkin efek dari hatiku yang kelu menjalar ke penglihatanku, sehingga semua terlihat pilu. Daun-daun yang berguguran ikut mendampingi bunga-bunga yang aku dan keluargaku taburkan tadi. Daun dan bunga yang menyelimuti gundukan tanah, yang di bawahnya terbaring tubuh seorang manusia. Manusia yang meninggalkan kenangan tak terhingga untukku dan keluargaku, manusia yang akan selalu hidup di hati kami, manusia yang kini meninggalkan dunia untuk mendampingi Ia Yang Maha Segalanya.

Selamat jalan kakakku tercinta, 18 tahun benar-benar waktu yang singkat untuk kita habiskan bersama. Semoga Allah menempatkanmu disisi-Nya. Kami disini akan selalu menjaga kenangan tentangmu dan berdoa untukmu. Semoga kau beristirahat dengan tenang, Mbak Nadia.

9/22/2011

Woop Woop, (spider)Webs!

(spider)Webs all over my blog X_X Iya, maaf, aku tau blog ini sudah diambil alih oleh laba-laba sampai mereka membuat rumah disini, saking jarangnya aku mengupdate disini. Janji-janjiku di post-post sebelumnya................lidah memang tidak bertulang. Banyak hal dan kejadian yang sebenarnya ingin aku tumpah ruahkan disini, tapi karena pelitnya jam untuk melambatkan jarumnya............apa daya, kaga ade waktu broh. Bukannya sok sibuk loh yah tapi ya pegimane yah secara gitu gue kan nganu emm..emm..emm.. (bilang aja males).

Tapi aku mulai merencanakan perubahan untuk blog ini. Mulai dari konsep, yang akan mengubah segalanya. Layout, Header, apa yang akan di posting, dsb. Masih dalam tahap peracikan bumbu sih, belum beli bahan-bahan, belum dicincang, belum masak air juga #lah. Tapi intinya aku punya sebuah rencana untuk blog ini. Biar terkesan bukan blog anak-anak lagi lah. Tapi blog ABeGeh alias remaja, gitu. Alias anak SMA! xixixi. Biar gak kekanak-kanakkan lagi kesannya. Dan mungkin biar terkesan lebih ceria dan..........unyu :3

Perubahan ini step by step yah, sesedianya waktu mempersilakanku rehat sejenak dan menuangkan sedikit kreativitasku disini. Jadi, tunggu sajah!

Salam unyu,
Nashtiti